Tradisi “Baroah” Dalam Masyarakat Dayak Kanayatn

Seseorang sedang memasak lemang untuk dihidangkan kepada tamu pada saat acara "baroah" berlangsung. Foto: Dokumen pribadi.

“Baroah” dalam masyarakat sub suku Dayak Kanayatn merupakan sebuah tradisi turun temurun yang setiap tahunnya dilaksanakan oleh sub suku ini. Baroah merupakan sebuah tradisi dalam masyarakat Dayak Kanayatn sebagai rasa ungkapan syukur mereka kepada Jubata (Tuhan – Red) atas hasil panen yang mereka peroleh. Tradisi ini merupakan salah satu pesta termeriah dalam tradisi kebudayaan sub suku Dayak Kanayatn. Disebut meriah karena dilaksanakan secara serentak dalam setiap wilayah/kampung/dusun.

Tradisi baroah ini umumnya berlangsung selama dua hari, yang berlangsung antara April hingga Mei dalam setiap tahunnya. Hari pertama merupakan masa persiapan bagi masing-masing kepala keluarga untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan pada hari keduanya. Sedangkan hari kedua merupakan acara puncak dalam tradisi baroah ini. Pada hari kedua, masing-masing kepala keluarga akan mempersembahkan hasil panennya kepada Jubata dengan cara didoakan yang dilakukan oleh seorang panyangahatn. Panyangahatn adalah seorang imam yang tugasnya memang sebagai pembaca doa dalam setiap kegiatan tradisi dan adat istiadat dalam masyarakat Dayak Kanayatn. Setelah hasil panen dipersembahkan kepada Jubata melalui doa (disangahatn), acara selanjutnya adalah menikmati hasil panen tersebut dengan cara makan bersama.

Beberapa makanan yang pasti ada dalam tradisi baroah ini di antaranya adalah lemang, tumpi (cucur) dan daging babi yang diolah/dimasak dengan beragam jenis masakan. Yang menarik dari tradisi ini adalah kebiasaan saling kunjung-mengunjungi dari satu rumah ke rumah yang lain. Tidak hanya dari mereka yang sedang melaksanakan pesta ini, tetapi sanak keluarga, sahabat, kenalan dan lain-lainnya yang berasal dari wilayah lain juga ikut berkunjung, sehingga pantas jika acara ini disebut acara termeriah dalam masyarakat Dayak Kanayatn. Di sinilah nilai-nilai sosial/solidaritas/kesetiakawanan, kekeluargaan dan kebersamaan yang dapat ditemukan dari tradisi baroah ini.

Kejuaraan Nasional Balap Sepeda Di Penghujung April 2011

Kejuaraan nasional balap sepeda di penghujung April 2011 di Kabupaten Landak. Foto: Dokumen pribadi.

Sabtu, 30 April 2011 kiranya menjadi satu catatan sejarah baru bagi Kabupaten Landak. Karena pada penghujung April ini telah berlangsung kejuaraan nasional balap sepeda yang bertajuk “Bank Kalbar Bike Race 2011”. Konon kejurnas balap sepeda ini juga diikuti beberapa pembalap dari luar negeri, di antaranya dari Singapura, Brunei dan Malaysia. Tentunya ini menjadi salah satu prestasi bagi Kabupaten Landak dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya pribadi. Sebagai warga Kabupaten Landak, saya merasa bangga karena Landak dipercaya untuk kesekian kalinya menjadi tuan rumah dalam beberapa kegiatan berskala nasional, maupun lokal (Kalimantan Barat). Beberapa kegiatan yang pernah sukses terselenggara di kabupaten ini di antaranya adalah Jambore Pemuda Indonesia (kegiatan nasional), MTQ tingkat provinsi dan Latsirtada, yang kesemuanya itu berlangsung pada tahun 2010 yang lalu.

Kegiatan kejuaraan nasional balap sepeda ini dimulai atau start dari depan Bank Kalbar Sungai Pinyuh (Kabupaten Pontianak) dan finish di depan Bank Kalbar Cabang Ngabang (Kabupaten Landak). Para pembalap akan menempuh jarak kurang lebih 130 KM. Berikut adalah beberapa foto yang berhasil saya abadikan ketika iringan pengawal dan pembalap sepeda melewati kampung saya:

Kalau ada patroli begini, pasti aman dan lancar deh lombanya...Foto: Dokumen pribadi.

Foto yang ini sepertinya rombongan panitia Lomba Balap Sepeda. Foto: Dokumen pribadi.

Tim pengawal dan pengamanan jalan raya. Foto: Dokumen pribadi.

Awasss…! Semua harus minggir untuk keselamatan pembalap. Foto: Dokumen pribadi.

Tim pengawal dan pengamanan jalan raya. Foto: Dokumen pribadi.

Tim pengawal dan rombongan panitia. Foto: Dokumen pribadi.

Masa' aku tertinggal jauh dari mereka? Aku harus kejar mereka...Foto: Dokumen pribadi.